Pengaruh
Labeling Terhadap Anak
Oleh : Khoirun Nisa’
Labeling
merupakan julukan atau cap yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain yang
akhirnya menjadi identitas orang tersebut. Memberikan label cenderung melihat
dari kepribadian menyeluruh bukan dari satu per satu perilaku.
Kelahiran teori labeling pada
awalnya dipelopori Lemert dan Interaksionisme simbolik dari Hebbert Mead yang
kemudian dikembangkan kembali oleh Howard Becker di tahun 1963. Labeling juga
disebut dengan julukan atau pemberian cap yang pada awal menurut teori
struktural devian atau penyimpangan dipahami sebagai perilaku yang terjadi dan
merupakan karakter berlawanan dengan norma sosial.
Lalu bagaimana pengaruh labeling
terhadap perilaku, maupun sifat seorang anak? Apakah Ibu, Bapak maupun Ayah,
Bunda pernah berfikir bahwa kata-kata yang terucap akan mudah tertancap kuat
dalam memori buah hati kalian di masa keemasannya? Mungkin terlihat sepele
namun sangat riskan jika disepelekan, ini menyangkut masa depan yang gemilang
dari seorang anak.
Pada tahun 1902, ilmuwan sosial
Charles Horton Cooley mengembangkan gagasan tentang "diri yang tampak
seperti kaca", yang menjelaskan, sebagian besar konsep diri dikembangkan
oleh bagaimana kita berpikir orang lain memandang kita. Sementara itu, menurut
penasihat anak Dr. Brenna Hicks, "Anak-anak mengembangkan dan
mendefinisikan perasaan diri mereka dengan memproses apa yang orang lain
katakan tentang siapa mereka, apa yang dilakukan, bagaimana bersikap dan
sebagainya." Saat orang tua mengatakan anak itu nakal, pemalu, atau
agresif, maka label itu akan mulai menjadi bagian dari identitas anak, secara
baik atau buruk.
Saya pernah menjumpai seorang anak
yang masih duduk di bangku sekolah dasar, kelas dasar. Orang tua, keluarga
besarnya, guru disekolah, beserta orang-orang disekitarnya telah melabelinya
dengan anak yang nakal, karena berbagai tingkah yang ia lakukan, membuat pusing
tujuh keliling. Padahal dibalik semua itu ia hanya ingin diperhatikan karena ia
merasa dikesampingkan demi kesibukan mencari pundi-pundi rupiah. Anak itu lebih
suka perhitungan ataupun menggambar ketika belajar, namun orang tua menuntutnya
melulu untuk membaca dan menulis. Tidak dapat dipungkiri, dunia anak adalah
dunia penuh kebebasan. Ia hanya akan melakukan apa yang ia suka. Dan seringkali
orang tua akan mudah mengatakan hal-hal yang tidak baik karena emosi yang tak
tertahan. Seperti halnya yang dikatakan orang tua si anak, "Kalau kamu
masih nakal, tidak mau belajar, baju kamu bunda rapikan, besok kita berangkat
ke pondok pesantren, tidak usah sekolah lagi", bukan sekali dua kali
dilontarkan dan juga bukan seorang dua orang yang mengucapkan perihal kata
“nakal”. Di lain kesempatan, Saya mendengar bahwa ia berkelahi dengan teman
sekelasnya dan Saya bertanya kepadanya, "Kamu gak takut kalau dipanggil ke
ruang kepala sekolah?", dan dengan santainya ia menjawab, "Gak lah,
kepala sekolahnya yang takut sama aku". Terlihat jelas dari keseharian si
anak yang suka marah-marah, berkata yang tidak seharusnya, apapun yang ia minta
harus terlaksana, intinya ia membuktikan pada semesta bahwa ia benar-benar anak
yang nakal seperti yang orang-orang labelkan kepada dirinya. Lalu bagaimana
jika sudah seperti ini kondisinya? Siapa yang harus membenahi? Mulai darimana
membangkitkan kepercayaan diri anak kembali?
William J. Chambliss, seorang
kriminolog dan sosiolog di George Washington University melakukan sebuah
eksperimen menarik. Percobaan ini ia lakukan pada 8 siswa sebuah SMA yang
selalu melakukan kenakalan remaja. Beberapa contoh di antaranya yakni membolos,
mengonsumsi minuman keras, vandalisme, mencuri, dan masih banyak lagi. Jadi,
kedelapan siswa tersebut diberi julukan "Saints", yang artinya
adalah orang-orang suci atau mulia. Sungguh kontradiktif, bukan?
Ternyata, efek yang ditimbulkan
cukup mencengangkan setelah pemberian label tersebut. Awalnya, 8 siswa ini
mulai berhati-hati dalam 'mempraktikkan' kenakalannya. Mereka tidak ingin
masyarakat yang mengenal mereka sebagai anak-anak baik berubah pikiran. Para
siswa tersebut senang dianggap sebagai remaja-remaja baik. Lama-kelamaan,
mereka pun malu untuk melakukan kenakalan dan perlahan-lahan meninggalkan
kebiasaan buruknya. Akhirnya, sukses pun mereka raih dan jadi remaja yang
berguna bagi masyarakat.
Sebegitu besar pengaruh pemberian
julukan, label, atau cap pada seseorang. Namun sayangnya, di kalangan
masyarakat dengan tingkat sosio-ekonomi dan pendidikan rendah, hal ini masih
kurang diperhatikan. Bisa jadi karena kurangnya edukasi mengenai
teori labeling.
Jadi, alangkah baiknya untuk para
orang tua maupun orang-orang semua
penghuni semesta, disini Saya tidak bermaksud menggurui, alangkah baiknya Kita
bersama-sama belajar, untuk senantiasa berkata dengan tertata, bertutur dengan
teratur meskipun teori tidak dikuasai setidaknya kita masih punya hati nurani,
untuk mengontrol kata agar tidak menimbulkan luka bagi siapa saja yang
mendengarnya, apalagi ini terhadap buah hati sendiri, terhadap anak didik
sendiri, terhadap saudara saudari sesama penghuni bumi.
Sumber:
- blog.ruangguru.com
- dosenpsikologi.com
- nikita.grid.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar