Kamis, 16 Januari 2020

Jangan Sebut Aku Anak Nakal


Pengaruh Labeling Terhadap Anak
Oleh : Khoirun Nisa’



Labeling merupakan julukan atau cap yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain yang akhirnya menjadi identitas orang tersebut. Memberikan label cenderung melihat dari kepribadian menyeluruh bukan dari satu per satu perilaku.
Kelahiran teori labeling pada awalnya dipelopori Lemert dan Interaksionisme simbolik dari Hebbert Mead yang kemudian dikembangkan kembali oleh Howard Becker di tahun 1963. Labeling juga disebut dengan julukan atau pemberian cap yang pada awal menurut teori struktural devian atau penyimpangan dipahami sebagai perilaku yang terjadi dan merupakan karakter berlawanan dengan norma sosial.
Lalu bagaimana pengaruh labeling terhadap perilaku, maupun sifat seorang anak? Apakah Ibu, Bapak maupun Ayah, Bunda pernah berfikir bahwa kata-kata yang terucap akan mudah tertancap kuat dalam memori buah hati kalian di masa keemasannya? Mungkin terlihat sepele namun sangat riskan jika disepelekan, ini menyangkut masa depan yang gemilang dari seorang anak.
Pada tahun 1902, ilmuwan sosial Charles Horton Cooley mengembangkan gagasan tentang "diri yang tampak seperti kaca", yang menjelaskan, sebagian besar konsep diri dikembangkan oleh bagaimana kita berpikir orang lain memandang kita. Sementara itu, menurut penasihat anak Dr. Brenna Hicks, "Anak-anak mengembangkan dan mendefinisikan perasaan diri mereka dengan memproses apa yang orang lain katakan tentang siapa mereka, apa yang dilakukan, bagaimana bersikap dan sebagainya." Saat orang tua mengatakan anak itu nakal, pemalu, atau agresif, maka label itu akan mulai menjadi bagian dari identitas anak, secara baik atau buruk.
Saya pernah menjumpai seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, kelas dasar. Orang tua, keluarga besarnya, guru disekolah, beserta orang-orang disekitarnya telah melabelinya dengan anak yang nakal, karena berbagai tingkah yang ia lakukan, membuat pusing tujuh keliling. Padahal dibalik semua itu ia hanya ingin diperhatikan karena ia merasa dikesampingkan demi kesibukan mencari pundi-pundi rupiah. Anak itu lebih suka perhitungan ataupun menggambar ketika belajar, namun orang tua menuntutnya melulu untuk membaca dan menulis. Tidak dapat dipungkiri, dunia anak adalah dunia penuh kebebasan. Ia hanya akan melakukan apa yang ia suka. Dan seringkali orang tua akan mudah mengatakan hal-hal yang tidak baik karena emosi yang tak tertahan. Seperti halnya yang dikatakan orang tua si anak, "Kalau kamu masih nakal, tidak mau belajar, baju kamu bunda rapikan, besok kita berangkat ke pondok pesantren, tidak usah sekolah lagi", bukan sekali dua kali dilontarkan dan juga bukan seorang dua orang yang mengucapkan perihal kata “nakal”. Di lain kesempatan, Saya mendengar bahwa ia berkelahi dengan teman sekelasnya dan Saya bertanya kepadanya, "Kamu gak takut kalau dipanggil ke ruang kepala sekolah?", dan dengan santainya ia menjawab, "Gak lah, kepala sekolahnya yang takut sama aku". Terlihat jelas dari keseharian si anak yang suka marah-marah, berkata yang tidak seharusnya, apapun yang ia minta harus terlaksana, intinya ia membuktikan pada semesta bahwa ia benar-benar anak yang nakal seperti yang orang-orang labelkan kepada dirinya. Lalu bagaimana jika sudah seperti ini kondisinya? Siapa yang harus membenahi? Mulai darimana membangkitkan kepercayaan diri anak kembali?
William J. Chambliss, seorang kriminolog dan sosiolog di George Washington University melakukan sebuah eksperimen menarik. Percobaan ini ia lakukan pada 8 siswa sebuah SMA yang selalu melakukan kenakalan remaja. Beberapa contoh di antaranya yakni membolos, mengonsumsi minuman keras, vandalisme, mencuri, dan masih banyak lagi. Jadi, kedelapan siswa tersebut diberi julukan "Saints", yang artinya adalah orang-orang suci atau mulia. Sungguh kontradiktif, bukan?
Ternyata, efek yang ditimbulkan cukup mencengangkan setelah pemberian label tersebut. Awalnya, 8 siswa ini mulai berhati-hati dalam 'mempraktikkan' kenakalannya. Mereka  tidak ingin masyarakat yang mengenal mereka sebagai anak-anak baik berubah pikiran. Para siswa tersebut senang dianggap sebagai remaja-remaja baik. Lama-kelamaan, mereka pun malu untuk melakukan kenakalan dan perlahan-lahan meninggalkan kebiasaan buruknya. Akhirnya, sukses pun mereka raih dan jadi remaja yang berguna bagi masyarakat.
Sebegitu besar pengaruh pemberian julukan, label, atau cap pada seseorang. Namun sayangnya, di kalangan masyarakat dengan tingkat sosio-ekonomi dan pendidikan rendah, hal ini masih kurang diperhatikan. Bisa jadi karena kurangnya edukasi mengenai teori labeling.
Jadi, alangkah baiknya untuk para orang tua maupun  orang-orang semua penghuni semesta, disini Saya tidak bermaksud menggurui, alangkah baiknya Kita bersama-sama belajar, untuk senantiasa berkata dengan tertata, bertutur dengan teratur meskipun teori tidak dikuasai setidaknya kita masih punya hati nurani, untuk mengontrol kata agar tidak menimbulkan luka bagi siapa saja yang mendengarnya, apalagi ini terhadap buah hati sendiri, terhadap anak didik sendiri, terhadap saudara saudari sesama penghuni bumi.

Sumber:
  1. blog.ruangguru.com
  2. dosenpsikologi.com
  3. nikita.grid.id

Rabu, 15 Januari 2020

Melepas Angan


Hilang
Oleh :KhoirunNisa’


Perihal kehilangan
Yang menyisakkan kenangan
Terkenang dan selalu menggenang
Memaksa untuk berlapang

Miris mengiris, tak lagi bisa ditepis
Bias, membekas
Terbang melayang, selalu membayang
Asa bertebaran, ilusi menggerayang

Tak lagi tergenggam
Hanya ada angan
Dan setitik peluang
Tuk kembali pulang

Tulang Punggung Meraung


Tulang Punggung Meraung
Oleh: Khoirun Nisa’


Raga melulu dicerca, dipinta turut serta
Mengais rupiah penuh gairah, membungkam keluh kesah
Tetap tegar meski terkapar, tetap tenang meski berlinang
Demi yang tersayang, penuhi angan yang menggerayang
Biaya pendidikan, kebutuhan harian, semua perihal uang
Sungguh... Ketika lelah menjangkit, asa juga terlilit
Hanya ada cacian dan kecaman dari sang pujaan
Menahan sesak, menahan isak
Demi siapa lagi jika bukan anak?
Anak yang tak tau diri, yang selalu memoroti
Selalu memaki saat ambisi tak terpenuhi
Gengsi yang menggerogoti, membuat hati meradang
Malang melintang tak tau arti berjuang
Ku ingin mata semua anak terpenjat
Agar tak lagi menjerat, membiarkan ambisi berkarat
Memenuhi setiap sekat
Semoga sehat selalu menjerat
Umur selalu mengulur
Berkah selalu melimpah
Untukmu Ayah..

Menapaki Jejak Sang Kekasih


Kekasihku
Oleh: Siti Nurul Humairoh





Wahai kekasihku…



Dapatkah aku melanjutkan langkah kakimu

Menelusuri jejak suri tauladanmu

Kau jadi panutan, kau jadi tauladan
Kau hadir di tengah gelapnya dunia
Kau bagaikan pelita di alam jagat raya
Kau hadir di tengah peradaban jahiliah
Yang tidak beradab…

Kekasihku…
Perjuanganmu begitu berat…
Apa yang  kau lalui, kau lakukan dengan ikhlas
Tulus dan bijaksana

Sungguh mulia hatimu, ya…Rasul…
Kau tiada lelah memperjuangkan agama Allah yang hakiki

Kau tiada gentar langkahkan kakimu 
Melawan segala rintangan yang menghadang
Kau tiada lelah berdakwah memberikan petunjuk
Bagi umatmu…..

Oh…Kekasihku
Ku tak bisa membayangkan betapa berat perjuanganmu…
Betapa sakit perasaanmu
Namun….Lihatlah umatmu yang tak bisa lagi
Mengikuti langkah perjuangan suri tauladanmu

Apakah kami pantas mengaku sebagai umatmu?
Apakah kami pantas bisa bersanding denganmu di surga kelak?
Apa pantas ya…Rasul?
Apakah pantas….

Jikalah engkau masih ada di tengah-tengah perubahan zaman ini
Engkau pasti menuntun kami
Jikalah engkau melihat kelakuan kami
Kau pasti akan bersedih dan kecewa
Dengan segala kemaksiatan dan kezaliman yang telah kami perbuat
Maafkan kami ya Rasul….
Maafkan kami…!!

Engkau sungguh pemimpin yang tiada tandingan
Engkau sungguh pemimpin yang sangat luar biasa
Yang diutus untuk alam jagat raya…

Senin, 13 Januari 2020

Hymne PMII






Hymne PMII

Bersemilah, bersemilah
Tunas PMII
Tumbuh subur, tumbuh subur
Kader PMII
Masa depan kita rebut
Untuk meneruskan perjuangan

Bersemilah, bersemilah
Kaulah harapan bangsa

Bersemilah, bersemilah
Tunas PMII
Tumbuh subur, tumbuh subur
Kader PMII
Masa depan kita rebut
Untuk meneruskan perjuangan

Bersemilah, bersemilah
Kaulah harapan bangsa

Mars PMII









Mars PMII

Inilah kami wahai Indonesia
Satu barisan dan satu cita
Pembela bangsa, penegak agama
Tangan terkepal dan maju ke muka

            Habislah sudah masa yuang suram
            Selesai sudah derita yang lama
            Bangsa yang jaya
            Islam yang benar
            Bangun tersentak dari bumiku subur

*Reff :
Denganmu PMII
Pergerakanku
Ilmu dan bakti, ku berikan
Adil dan makmur kuperjuangkan
Untukmu satu tanah airku
Untukmu satu keyakinanku

            Inilah kami wahai Indonesia
            Satu angkatan dan satu jiwa
            Putera bangsa bebas merdeka
            Tangan terkepal dan maju ke muka

Denganmu PMII
Pergerakanku
Ilmu dan bakti, ku berikan
Adil dan makmur kuperjuangkan
Untukmu satu tanah airku
Untukmu satu keyakinanku